Pentingnya Mendalami Pengetahuan Mengenal Allah ‘Azza wa Jalla

Pengetahuan Untuk Mengenal Allah SWT beserta Keutamaannya

Mengenal Allah SWT merupakan hal wajib yang mendasar buat semua insan, terlebih sebagai seorang muslim yang taat.

Pentingnya Mendalami Pengetahuan Mengenal Allah 'Azza wa Jalla

Dengan mengenal Allâh Subhanahu wa Ta’ala sebagai Tuhan seru sekalian alam, akan sangat berdampak global dalam menentukan tujuan hidup, sehingga tidak akan tertipu oleh urusan dunia.

Sebagaimana firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala, dalam Al-Qur’an Surah Az-Zariyat ayat 56:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”

Pengetahuan untuk mengenal Allâh Subhanahu wa Ta’ala atau yang disebut dengan Ma’rifatullah, yang merupakan ilmu agama Islam yang tertinggi, yang harus dipatuhi oleh seluruh makhluk ciptaan Allâh Subhanahu wa Ta’ala. Firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala di dalam surah Al- An’am ayat 122:

أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.”



Bila di rincikan, pengetahuan mengenal Allâh Subhanahu wa Ta’ala, ada 4 point yang berkaitan dengan pengetahuan ini, yakni :

1. Mengenal Adanya Allah Subhaanahu Wa Ta’ala

Walaupun kita tidak pernah bertemu, melihat, mendengar secara langsung, kita wajib percaya dan yakin bahwa Allâh Subhanahu wa Ta’ala pencipta seluruh alam beserta isinya. Banyak sekali dalil-dalil yang menunjukkan hal ini, diantaranya firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an Surat Ath-Thur (52) ayat 35 :

أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ

“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun (yakni tanpa Pencipta), ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?”

Maksud dari ayat ini, menggambarkan akan keadaan bahwa manusia atau makhluk yang sudah ada, tidak lepas dari salah satu dari tiga keadaan dibawah ini :

  • Mereka ada tanpa Pencipta. Ini tidak mungkin. Tidak ada akal sehat yang bisa menerima bahwa sesuatu itu ada tanpa ada yang membuatnya.
  • Mereka menciptakan diri mereka sendiri. Ini lebih tidak mungkin lagi. Karena bagaimana mungkin sesuatu yang awalnya tidak ada menciptakan sesuatu yang ada.
  • Inilah yang haq, yaitu Allah ‘Azza wa Jalla yang telah menciptakan mereka, Dialah Sang Pencipta, Penguasa, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Seorang Arab Baduwi ditanya, “Apakah bukti tentang adanya Allâh Subhanahu wa Ta’ala ?” Dia menjawab, “Subhânallâh (Maha Suci Allâh)! Sesungguhnya kotoran onta menunjukkan adanya onta, bekas telapak kaki menunjukkan adanya perjalanan! Maka langit yang memiliki bintang-bintang, bumi yang memiliki jalan-jalan, lautan yang memiliki ombak-ombak, tidakkah hal itu menunjukkan adanya al-Lathiif (Allah Yang Maha Baik) al-Khabiir (Maha Mengetahui).

Suatu ketika, Imam Ahmad rahimahullaah ditanya tentang hal ini, beliau menjawab, “Ada sebuah benteng yang kokoh, halus, tidak ada pintu dan jendela. Luarnya seperti perak putih, dalamnya seperti emas murni. Ketika dalam keadaan demikian, tiba-tiba temboknya terbelah, lalu keluarlah darinya seekor binatang yang dapat mendengar dan melihat, memiliki bentuk yang indah dan suara yang merdu.”

Yang dimaksudkan oleh Imam Ahmad adalah seekor ayam yang keluar dari telurnya. [Lihat Tafsiir Ibnu Katsiir, surat al-Baqarah, ayat ke-21]

Sesungguhnya keyakinan adanya Sang Pencipta, Allâh Subhanahu wa Ta’ala, merupakan fithrah makhluk. Oleh karena itulah Fir’aun, bahkan Iblis, juga meyakini hal ini. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an Surat an-Naml (27) ayat 14, tentang Fir’aun dan kaumnya yang mengingkari mu’jizat Nabi Musa ‘Alaihissallam :

وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا ۚ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ

“Dan mereka (Fir’aun dan kaumnya) mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan.”

Oleh karena itu, tidaklah semata-mata seseorang meyakini adanya Allâh berarti dia adalah orang Islam atau beriman.

2. Mengenal Keesaan Rububiyyah Allah Subhaanahu Wa Ta’ala

Kita wajib meyakini keesaan rububiyah Allâh, yakni bahwa hanya Allâh lah yang maha pencipta, memiliki, menguasai, dan mengatur seluruh makhluk.

Hanya Allâh lah yang menghidupkan, mematikan, memberi rizqi, mendatangkan kebaikan, mendatangkan bencana. Tidak ada sekutu bagi Allâh dalam seluruh perkara di atas, baik malaikat, nabi, wali, jin, ruh, atau lainnya.

Rububiyah (mencipta, memiliki, dan mengatur/menguasai) seluruh alam semesta ini hanyalah bagi Allâh semata. Allâh Azza wa Jalla berfirman dalam surat Al-Faatihah (2) ayat 1 :

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Segala puji bagi Allah, Rabb (Pemilik, Penguasa) semesta alam.

Rupanya jenis tauhid ini tidak diingkari oleh orang-orang musyrik sekalipun sejak di zaman Rasûlullâh, bahkan mereka mengakuinya, sebagaimana dinyatakan oleh beberapa ayat Al-Qur’ân, misal di surat Yunus (10) ayat 31, Allâh Azza wa Jalla berfirman :

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ ۚ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ ۚ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ

“Katakanlah, “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan” Maka mereka (orang-orang musyrik jahiliyah) menjawab, “Allâh”. Maka katakanlah: “Mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?”

Bahkan iblis sekalipun mengakui bahwa Allâh-lah yang telah menciptakannya dari api.

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

Allah berfirman, “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Iblis menjawab “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. (Al-Qur’an al-A’râf (7) ayat : 12)

3. Mengenal Keesaan Uluhiyyah Allah Subhaanahu Wa Ta’ala (hak-Nya untuk diibadahi).

Meyakini, bahwa tidak ada yang paling berhak diibadahi hanya Allâh Subhanahu wa Ta’ala. Tidak boleh memberikan ibadah kepada selain Allâh, walaupun kepada makhluk yang dekat kepada-Nya, seperti malaikat atau rasul Allâh Azza wa Jalla. Apalagi kepada makhluk yang derajatnya di bawah mereka, seperti : manusia, jin, binatang, pohon, batu, senjata, planet, bintang, ataupun lainnya.

Tauhid inilah makna yang terkandung di dalam kalimat : “Lâ ilâha illa Allâh“, karena maknanya adalah tidak ada yang berhak diibadahi selain Allâh. Sebagaimana yang sering kita ucapkan dalam surat Al-Faatihah, ayat 5 :

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya Engkaulah yang kami ibadahi dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman :

قُلْ إِنَّمَا يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَهَلْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Katakanlah, “Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku adalah ”Bahwasanya Ilahmu (yang kamu ibadahi) adalah Ilah Yang Esa, maka hendaklah kamu berserah diri (kepada-Nya)”. ( Surat Al-Anbiyâ’ (21) ayat 108]

Keimanan terhadap keesaan uluhiyah Allâh (hak-Nya untuk diibadahi) ini adalah inti dakwah seluruh rasul. Dan inilah yang diingkari oleh orang-orang musyrik dan kafir. Sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla dalam surat Shaad (38) ayat 4-5 :

وَعَجِبُوا أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْ ۖ وَقَالَ الْكَافِرُونَ هَٰذَا سَاحِرٌ كَذَّابٌ﴿٤﴾أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ

“Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata, “ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta”. Mengapa ia menjadikan ilah-ilah itu Ilah Yang Satu saja. Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.”

Makna pemahaman akan keesaan uluhiyah Allâh ini, agar supaya kita mencintai Allâh, tunduk kepada-Nya, takut dan berharap kepada-Nya, serta mengesakan ibadah hanya kepada-Nya.

Senantiasa melaksanakan ibadah kepada Allâh yaitu merendahkan diri dan taat kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala dengan penuh kecintaan, pengagungan, mengharapkan rahmat, dan takut terhadap siksa. Hal itu dilakukan dengan cara melaksanakan perintah Allâh Azza wa Jalla dan menjauhi larangan-Nya.

Ibadah disini, tentunya, menyangkut segala hal yang dicintai dan diridhai oleh Allâh Azza wa Jalla , baik berupa perkataan dan perbuataan, yang lahir maupun yang bathin.

Ibadah akan diterima oleh Allâh dengan dua syarat yaitu :
1. Ikhlas, yaitu mencari ridha Allâh semata,
2. Mutâba’ah, yaitu mengikuti Sunnah (ajaran) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Jika seseorang telah meyakini bahwa keesaan merupakan hak Allâh untuk diibadahi, dia akan mempersembahkan segala jenis ibadah hanya kepada-Nya semata.

Di antara jenis-jenis ibadah adalah ketaatan yang mutlak dengan harap dan takut, kecintaan yang disertai ketundukan seutuhnya.

4. Mengenal Nama – nama dan Sifat Allah Subhaanahu Wa Ta’ala

Yakni dengan cara mengimani dan menetapkan seluruh nama-nama Allâh dan sifat-sifat-Nya, yang tersebut di dalam Al-Qur’ân dan Sunnah yang shahih, dengan tanpa menyerupakan dengan segala makhluk-Nya.

Firman Allâh dalam surat Al-A’râf (7) ayat 180 :

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Hanya milik Allâh asmâ-ul husnâ, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmâ-ul husnâ itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (surat Asy-Syûrâ (42) ayat 11)

Sesungguhnya Allâh Subhanahu wa Ta’ala adalah Yang Paling Tahu segala perkara, termasuk yang paling tahu tentang Allâh adalah Allah Azza wa Jalla sendiri. Sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-Baqarah (2) ayat 140 :

قُلْ أَأَنْتُمْ أَعْلَمُ أَمِ اللَّهُ

Katakanlah: “Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allâh?”

Demikian juga yang paling mengetahui tentang Allâh di antara semua makhluk adalah Rasul-Nya. Sehingga penjelasan para Rasul tentang Allâh Azza wa Jalla adalah haq. Sedangkan perkataan orang-orang kafir dan musyrik tentang Allâh hanyalah dugaan semata. Allâh berfirman :

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ﴿١٨٠﴾وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ﴿١٨١﴾ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Maha suci Rabbmu yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan, dan kesejahteraan dilimpahkan atas Para rasul, dan segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam. (Ash-Shâffât (37) ayat 180-182)



 

Adapun ciri-ciri atau indikasi dari al-Qur’an dan as-Sunnah serta keterangan para ulama yang berkaitan dengan seseorang yang telah mengenal Allah Azza wa Jalla, akan bersifat dan bersikat seperti dibawah ini:

Pertama : Orang Yang Mengenal Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan Merasa Takut Kepada-Nya

Firman Allâh Azza wa Jalla dalam Al-Qur’an surat Al-Faathir, ayat 28 (yang artinya) :

“Sesungguhnya yang merasa takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah orang-orang yang berilmu saja.”

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “…Ibnu Mas’ud pernah mengatakan, ‘Cukuplah rasa takut kepada Allah sebagai bukti keilmuan.’ Kurangnya rasa takut kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala itu muncul akibat kurangnya pengenalan/ma’rifah yang dimiliki seorang hamba kepada-Nya. Oleh sebab itu, orang yang paling mengenal Allâh Subhanahu wa Ta’ala ialah yang paling takut kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala di antara mereka. Barangsiapa yang mengenal Allâh, niscaya akan menebal rasa malu kepada-Nya, semakin dalam rasa takut kepada-Nya, dan semakin kuat cinta kepada-Nya. Semakin pengenalan itu bertambah, maka semakin bertambah pula rasa malu, takut dan cinta tersebut….” (Thariq al-Hijratain, dinukil dari adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir [5/97])

Kedua : Orang Yang Mengenal Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan “Mencurigai” Dirinya Sendiri

Ibnu Abi Mulaikah -salah seorang tabi’in- berkata, “Aku telah bertemu dengan tiga puluhan orang Shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan mereka semua merasa sangat takut kalau-kalau dirinya tertimpa kemunafikan.” (HR. Bukhari secara mu’allaq).

Suatu ketika, ada seseorang yang berkata kepada asy-Sya’bi, “Wahai sang alim/ahli ilmu.” Maka beliau menjawab, “Kami ini bukan ulama. Sebenarnya orang yang alim itu adalah orang yang senantiasa merasa takut kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala.” (dinukil dari adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir [5/98])

Ketiga : Orang Yang Mengenal Allâh Subhanahu wa Ta’ala senantiasa Mengawasi Gerak-Gerik Hatinya

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “…Begitu pula hati yang telah disibukkan dengan kecintaan kepada selain Allâh, keinginan terhadapnya, rindu dan merasa tentram dengannya, maka tidak akan mungkin baginya untuk disibukkan dengan kecintaan kepada Allâh, keinginan, rasa cinta dan kerinduan untuk bertemu dengan-Nya kecuali dengan mengosongkan hati tersebut dari ketergantungan terhadap selain-Nya. Lisan juga tidak akan mungkin digerakkan untuk mengingat-Nya dan anggota badan pun tidak akan bisa tunduk berkhidmat kepada-Nya kecuali apabila ia dibersihkan dari mengingat dan berkhidmat kepada selain-Nya. Apabila hati telah terpenuhi dengan kesibukan dengan makhluk atau ilmu-ilmu yang tidak bermanfaat maka tidak akan tersisa lagi padanya ruang untuk menyibukkan diri dengan Allâh serta mengenal nama-nama, sifat-sifat dan hukum-hukum-Nya.…” (al-Fawa’id, hal. 31-32)

Keempat : Orang Yang Mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala akan Selalu Mengingat Akherat

Allâh Azza wa Jalla berfirman dalam Al-Qur’an surat Huud, ayat 15-16 (yang artinya) :

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, maka akan Kami sempurnakan baginya balasan amalnya di sana dan mereka tak sedikitpun dirugikan. Mereka itulah orang-orang yang tidak mendapatkan apa-apa di akherat kecuali neraka dan lenyaplah apa yang mereka perbuat serta sia-sia apa yang telah mereka kerjakan.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersegeralah dalam melakukan amal-amal, sebelum datangnya fitnah-fitnah (ujian dan malapetaka) bagaikan potongan-potongan malam yang gelap gulita, sehingga membuat seorang yang di pagi hari beriman namun di sore harinya menjadi kafir, atau sore harinya beriman namun di pagi harinya menjadi kafir, dia menjual agamanya demi mendapatkan kesenangan duniawi semata.” (HR. Muslim)

Kelima : Orang Yang Mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala Tidak Akan Tertipu Oleh Harta

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya perbendaharaan dunia. Akan tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah rasa cukup di dalam hati.” (HR. Bukhari).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya anak Adam itu memiliki dua lembah emas niscaya dia akan mencari yang ketiga. Dan tidak akan mengenyangkan rongga/perut anak Adam selain tanah. Dan Allah akan menerima taubat siapa pun yang mau bertaubat.” (HR. Bukhari)

Keenam : Orang Yang Mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala Akan Merasakan Manisnya Keimanan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga perkara, barangsiapa memilikinya maka dia akan merasakan manisnya iman…” Di antaranya, “Allâh dan rasul-Nya lebih dicintainya daripada segala sesuatu selain keduanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan bisa merasakan lezatnya iman orang-orang yang ridha kepada Rabbnya, ridha Islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai rasul.” (HR. Muslim).

Ketujuh : Orang Yang Mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala Akan Sangat Tulus Beribadah Kepada-Nya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setiap amal itu dinilai berdasarkan niatnya. Dan setiap orang hanya akan meraih balasan sebatas apa yang dia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya [tulus] karena Allâh dan Rasul-Nya niscaya hijrahnya itu akan sampai kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena [perkara] dunia yang ingin dia gapai atau perempuan yang ingin dia nikahi, itu artinya hijrahnya akan dibalas sebatas apa yang dia inginkan saja.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allâh Subhanahu wa Ta’ala tidak memandang kepada rupa kalian, tidak juga harta kalian. Akan tetapi yang dipandang adalah hati dan amal kalian.” (HR. Muslim).
Ibnu Mubarak rahimahullah mengingatkan, “Betapa banyak amalan kecil yang menjadi besar karena niat. Dan betapa banyak amalan besar menjadi kecil gara-gara niat.” (Jami’ al-’Ulum wal Hikam oleh Ibnu Rajab).

Demikianlah artikel Pentingnya Mengenal Allah Azza wa Jalla ini, semoga Allâh Subhanahu wa Ta’ala memberikan taufik kepada kita untuk termasuk dalam golongan hamba yang di ridhoi-Nya, aamiin. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.