Bila Tamu Datang dan Pergi Sesuai Antrian

tamu datang dan pergi

Alkisah “Saat Tamu Datang dan Pergi Sesuai Antrian” pada Suatu restoran yang senantiasa ramai di kunjung orang – orang untuk menyantap menu – menu disana.

Suatu ketika, keluarga ibu Budi bersama pergi ke sebuah restoran untuk menikmati suatu makanan disana. Saat tiba, ibu Budi langsung disapa :

“Ibu mau pesan meja buat berapa orang?” Pelayan restoran itu bertanya sambil menuliskan sesuatu di buku panjang yang dia bawa.

“Delapan orang, Mbak.” Istri saya menyahut dengan suara cukup lantang. Maklum suasana restoran memang sedang penuh dan cukup bising dengan bunyi sendok dan piring yang bertumbukan.

“Baik Bu, tinggal satu antrian lagi ya. Nanti setelah ada meja yang kosong saya akan panggil Ibu!” Entah apa lagi tulisan berikutnya yang ia bubuhkan di buku yang sepintas terbaca berjudul “Waiting List” itu.

Yang jelas setelah itu, keluarga ibu Budi harus menunggu cukup lama, sampai ada serombongan tamu yang beranjak bangun dari meja mereka. Lalu dengan sigap petugas kebersihan merapikan meja tersebut, disusul dengan panggilan kepada ibu Budi.

Begitulah kalau kondisi restoran langganan keluarga ibu Budi sedang penuh. Untuk makan di sana, harus rela antri menunggu giliran. Satu persatu orang-orang yang makan di sana menyelesaikan santapan mereka hingga tuntas, barulah bergantian dengan yang lain.

Setelah selesai menikmati sajian yang dipesan, keluarga ibu Budi pun pergi meninggalkan restoran tersebut dan mejanya segera digantikan dengan tamu berikutnya yang sudah ada di daftar tunggu, sungguh fenomena Saat Tamu Datang dan Pergi Sesuai Antrian ini betul – betul terasa.

Dalam beberapa hal, restoran itu tampak serupa dengan keadaan di dunia ini. Perhatikanlah nasihat dari As-Syeikh Ash-Shon’ani -seorang ulama yang sudah menelurkan banyak alim di antaranya Al-Imam Asy-Syaukani- yaitu :

“Orang-orang terdahulu pernah memulai kehidupan di dunia. Kemudian mereka berpisah dengan dunia dan meninggalkannya untuk kita. Sekarang kita juga menetap di dunia sebagaimana orang-orang terdahulu. Dan kita akan berpisah dengan dunia, meninggalkannya untuk orang-orang setelah kita.”

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

“Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing (tamu) atau seperti orang yang sekedar lewat (musafir).”

Cukuplah kiranya hadist Bukhari ini menjadi pegangan kepada kita. Bahwa ketika sedang menjadi tamu di restoran tersebut, makanlah yang baik-baik dan halal saja, bersikap dengan adab kepada tamu-tamu yang lain, karena Saat Tamu Datang dan Pergi Sesuai Antrian itu akan terus berlaku.